Kekhawatiran Seorang IBU

| Senin, 04 April 2011 | |

 Tadi pagi waktu aku mau mandi, adik ku telepon. "Mba, koe ki kenopo? Ibu telepon kok ora diangkat? Ibu loro kae, telepon yo karo nangis-nangis", begitu katanya.

 Beberapa minggu belakangan memang aku jarang menerima telepon Ibu ku. Kalaupun aku terima, biasanya saat aku sedang ada pekerjaan atau sedang kondangan, yang pasti saat-saat dimana aku tidak bisa menerima telepon lama-lama, selebihnya aku tidak pernah menerima teleponnya. Aku masih ingat, terakhir kali kami bertukar kabar Ibu ku bertanya tentang tugas akhir ku, yang sudah 1 tahun ini tidak selesai, dan pesan dari beliau pun tidak ku balas. Aku selalu menghindari pertanyaan tetang tugas akhir yang dilontarkan beliau. Dan itu pula alasannya kenapa aku tidak pernah mengangkat telepon Ibu ku beberapa minggu belakangan.

 Aku tidak suka Ibu ku bertanya tentang tugas akhir ku. Karena setelah itu beliau akan 'marah', seakan-akan tidak peduli pada alasan yang aku berikan. Kelulusan yang tertunda ini pun bukan kemauan ku. Dan ketika beliau marah, aku pun akan bertambah pusing karena memikirkan kemarahan Ibu ku. Itu alasan ku kenapa beberapa minggu belakangan aku tidak menerima teleponnya. Ada rasa tidak enak dihati ini, kesannya aku menghindari masalah, yang aku buat sendiri, tapi kenyataannya aku tetap tidak menerima teleponnya.

 Dan benar, apa yang aku lakukan selama ini adalah SALAH BESAR. Ibu ku sakit. Sesak rasanya dada ini mendengar tangisan beliau. Ibu ku sakit akibat memikirkan perbuatan ku, khawatir terjadi sesuatu pada anaknya ini, rindu pada anaknya yang jarang pulang. Maaf kan aku, Ibu. Sungguh aku tidak bermaksud menyakiti mu.

 Ya ALLAH, lindungilah selalu Ibu ku, berikanlah selalu kesehatan kepada beliau. Amiiin.

Aku sungguh menyayangi mu, Ibu..

0 komentar:

Posting Komentar